Pages

esok pasti ada tapi esok belum pasti

Wednesday, February 15, 2017

MAKALAH TAFSIR AYAT DAN HADITS EKONOMI “Ayat ayat dan Hadits tentang Produksi”



MAKALAH TAFSIR AYAT DAN HADITS EKONOMI
“Ayat ayat dan  Hadits tentang Produksi”

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puja dan puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan limpahan rahmat-Nya kepada kita semua selaku para hamba-Nya. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita menuju terangnya Iman dan Islam, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya.
Makalah ini sengaja penulis susun dengan judul “Ayat dan Hadits Tentang Produksi” sebagai salah satu tugas yang deiberikan dosen kami dan dengan Rahmat Allah makalah ini dapat penulis selesaikan tepat pada waktunya.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan rekan-rekan mahasiswa. Saya menyadari bahwa makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, untuk itu segala kritik dan saran yang membangun akan saya terima demi kesempurnaan diskusi atau makalah selanjutnya dimasa yang akan datang.


Yogyakarta,    29 September  2015 M
                15 Dzulhijjah 1436 H


Penulis
                    












DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………i
DAFTAR ISI ………………………………………………………………..............ii
BAB I  PENDAHULUAN …………………………………………………………..1
  1. Perumusan Masalah …………………………………………………………..1

BAB II  AYAT dan HADITS TENTANG PRODUKSI ..............................……....3
  1. Penafsiran Q.S. An-Nahl ayat 80-81 …............................................................7
  2. Penjelasan Hadits tentang produksi..................................................................
  3. Pengertian Produksi menurut islam..................................................................

BAB III  PENUTUP ……………………………………………………………….13
  1. Kesimpulan……………………………………………………………….....13

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………...14













BAB I
PENDAHULUAN

            Al quran adalah landasan yang utama bagi seluruh umat manusia karena Al quran merupakan wahyu yang terakhir yang disampaikan oleh malaikat Jibril dan menjadi pedoman bagi manusia khususnya umat Islam itu sendiri, sementara Hadits Nabi Muhammad adalah seluruh perkataan, perbuatan dan persetujuan dari Rasulullah SAW. Maka dari itu Al quran dan Hadits keduanya tidak dapat dipissahkan karena saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
            Dan dalam kehidupan berekonomi kita mengenal beberapa istilah diantaranya adalah Konsumsi, Produksi dan Distribusi. Maka dari itu kita dapat mengambil beberapa ayat maupun hadits yang berkaitan dengan kehidupan berekonomi salah satunya adalah Produksi itu sendiri.
A.    Rumusan  Masalah
1.      Penafsiran QS An-Nahl Ayat 80-81
2.      Penjelasan Hadits tentang Produksi










BAB II
AYAT dan HADITS TENTANG PRODUKSI
A.    QS AN- NAHL AYAT 80-81

Dan Allah menjadikan rumah- rumah bagimu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagimu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit hewan ternak yang kamu merasa ringan (membawanya) pada waktu kamu berpergian dan pada waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya) dari bulu domba, bulu unta dan bulu kambing, alat alat rumah tangga dan kesenangan sampai waktu tertentu” (80)
dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu Pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dari peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).”(81)

Menurut Ahmad Mushtafa Al-Maroghi dalam tafsir Al-Maroghi, menafsirkan ayat-ayat ini bahwa Allah telah menyebutkan nikmat-nikmat yang Dia limpahkan kepada para hamba-Nya. Dimulai dengan nikmat yang dikhususkan bagi orang-orang yang bermukim, dengan Firman-Nya : “menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal” kemudian nikmat yang dikhususkan bagi para musafir yang mampu mendirikan kemah, dengan Firman-Nya : “menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak”. Kemudian bagi orang yang tidak mampu melakukan hal itu, tidak pula mempunyai naungan selain daripada tempat bernaung, dengan Firman-Nya : “menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan” . selanjutkan menyebutkan nikmat yang dibutuhkan oleh setiap orang, dengan Friman-Nya: “dan Dia jadikan bagimu pakaian”. Lalu, menyebutkan apa yang diperlukan di dalam peperangan, dengan Firman-Nya: “dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan”[1].
Ayat ini mengingatkan manusia tentang nikmat nikmat yang dapat diperolehnya melalui binatang ternak seperti disampaikan dalam arti ayat ke 80 tadi.
Firman-Nya (وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ ) waAllahu ja’alalakum min buyuutikum/ dan Allah menjadikan bagi kamu rumah rumah kamu dst. Mengandung arti bahwa Allah mencipatakan bagi manusia bahan bahan untuk dijadikan rumah, serta mengilhami manusia cara pembuatannya. Ilham untuk membuat rumah merupakan tangga pertama bagi bangunnya peradaban umat guna melanjutkan hidup prisbadi, bahkan jenisnya. Dengan demikian itu adalah nikmat yang sangat besar[2]. dalam pengggalan ayat ke 80 ini dapat disimpulkan bahwa manusia diilhami oleh Allah untuk melakukan salah satu dari kegiatan produksi itu sendiri.
Kata (BAITUN) yang artinya rumah, pada mulanya adalah tempat berada di waktu malam, baik tempat itu berupa bangunan tetap, maupun bangunan yang hanya untuk sementara seperti kemah kemah.agaknya penamaan demikian disebabkan karena manusia bisa saja pergi dan tidak kembali ke rumah pada siang hari namun pada malam harinya manusia akan kembali ke rumahnya untuk tidur.
Kata (سَكَنًا ) terambil dari kata tenang setelah sebelumnya bergejolak. Rumah berfungsi untuk memberikan ketenangan bagi penghuninya setelah seharian bergulat dengan aneka problem di luar rumah, keberadaan di rumah menjadikan seseorang dapat melepaskan lelah dan merasa tenang tidak terganggu bukan saja oleh binatang buas, melainkan juga oleh pengunjung yang masuk tanpa izin.
Firman-Nya (وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ جُلُودِ الْأَنْعَامِ ) artinya dan dijadikan bagimu dari kulit binatang ternak, dijadikan dasar oleh para ulama tentang bolehnya memanfaatkan semua kulit binatang yang hidup lalu disembelih maupun yang mati tanpa disembelih. Tetapi tentu saja setelah kulit itu disamak. Dari penggalan ayat ini manusia diperbolehkan untuk berproduksi atau menggunakan seluruh kekayaan alam termasuk didalamnya binatang ternak.[3]
Firman-Nya (مَتَاعًا إِلَىٰ حِينٍ ) yang artinya kesenangan sampai waktu yang tertentu mempunyai makna bahwa dan nasihat bahwa manusia agar tidak terpukau oleh alat alat rumah tangga dan perhiasan serta aneka kenikmatan duniawi, karena hal hal tersebut hanya bersifat sementara. Jika bukan barangnya yang rusak maka pemiliknya yang meninggalkan barangnya atau wafat.
Ayat 81
Ayat diatas menjelaskan tentang fungsi paakaian sebagai pemeliharaan dari perasaan dingin. Ini bukan saja karena masyarakat arab lebih merasakan kesuliatan dari sengatan panas. Pada ayat ini disebutkan dua fungsi dari pakaian yakni memelihara dari sengatan panas (atau dingin) dan juga dari sengatan musuh atau sebagai baju perang.[4]
B.     Hadits Tentang Produksi
Ibnu majah mengatakan, Nabi SAW bersabda : “Barang siapa yang mempunyai tanah maka tanamilah, jika tidak mampu maka supaya ditanami oleh saudaranya”
مَنْ كَانَتْ لَهُ أَرْضٌ فَلْيَزْرَعْهَا أَوْ لِيَمْنَحْهَا أَخَاهُ فَإِنْ أَبَى فَلْيُمْسِكْ أَرْضَهُ
       Produksi dapat meningkatkan kesejahteraan manusia dimuka bumi. Dalam ilmu ekonomi modern, kesejahteraan ekonomi diukur dengan uang, sedangkan dalam Islam kesejahteraan ekonomi terdiri dari bertambahnya pendapatan yang diakibatkan oleh meningkatnya produksi dan keikutsertaan sejumlah orang dalam proses produksi.[5][6]

C.     Pengertian Produksi Menurut Islam
Produksi dalam bahasa arab adalah al-intaaj dari akar kata nataja,tetapi dalam istilah fiqih lebih dikenal dengan kata tahsil,yaitu mengandung arti penghasilan atau menghasilkan sesuatu. Begitupun dengan Ibnu Khaldun,menggunakan kata tahsil untuk produksi ketika ia membahas pembagian spesialisasi tenaga kerja.[7][8] Dalam kamus Bahasa Indonesia produksi berarti hasil atau penghasilan.
Salah satu defenisi tentang produksi adalah aktivitas menciptakan manfaat dimasa kini dan mendatang.Disamping pengertian di atas,pengertian produksi juga merujuk kepada prosesnya yang mentransformasikan input menjadi output. Segala jenis input yang masuk dalam proses produksi untuk menghasilkan output produksi disebut faktor produksi.
Pemahaman produksi dalam Islam memiliki arti sebagai bentuk usaha keras dalam pengembangan faktor-faktor sumber produksi yang diperbolehkan. Islam menghargai seseorang yang mengolah bahan baku kemudian menyedekahkannya atau menjualnya sehingga manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya atau untuk meningkatkan ekonomi untuk mencukupi kebutuhannya sendiri. Pekerjaan seseorang yang sesuai keterampilan yang dimiliki, dikategorikan sebagai produksi, begitupun kesibukan untuk mengolah sumber penghasilan juga dapat dikatakan produksi.
Produksi tidak hanya menciptakan secara fisik sesuatu yang tidak ada menjadi ada,tetapi menjadikan sesuatu dari unsur-unsur lama yaitu alam menjadi bermanfaat. Dari binatang ternak misalnya, orang dapat mengambil kulitnya untuk dijadikan pakaian dan barang jadi lainnya, dari susu binatang ternak dapat diperas dijadikan minuman susu segar ataupun susu bubuk untuk bayi. Manusia harus mengoptimalkan pikiran dan keahliannya untuk mengembangkan sumber-sumber investasi dan jenis-jenis usaha dala menjalankan apa yang telah disyari’atkan.[9]







BAB III
KESIMPULAN
           
            Produksi merupakan salah satu bagian dari kegiatan ekonomi dan manusia tidak mungkin dapat dipisahkan dari kegiatan ekonomi itu sendiri karena manusia membutuhkan sesuatu untuk kelangsungan hidupnya seperti dijelaskan dalam QS An- Naml ayat 80-81 bahwasannya manusia itu membutuhkan rumah untuk tempat tinggal dan Allah menciptakan alam dan seluruh isinya agar digunakan sebaik baiknya oleh manusia untuk kelangsungan hidupnya seperti kullit hewan ternak yang digunakan manusia untuk pakaian dan melindunginya dari rasa dingin maupun dari musuh. Sedangkan hadits Rasulullah SAW menerangkan tentang salah satu faktor produksi yakni tanah yang menganjurkan umatnya untuk bercocok tanam sebagai salah satu bentuk berproduksi itu sendiri.
            Demikian secara umum pernjelasan Ayat Al Quran dan Hadits yang kami hubungkan dengan produksi dalam islam yakni menggunakan sebaik baiknya fktor faktor produksi yang telah diciptakan oleh Allah untuk kelangsungan hidup manusia dan menggunakan sebaik baiknya dalam rangka beribadah kepada-Nya.


















DAFTAR PUSTAKA

1.      Tafsir Al misbah M. Quraish shihab
2.      http://refkyfielnanda.blogspot.co.id/2015/01/studi-hadits-tentang-produksi_19.html

           














[1] http://hamz-sazied.blogspot.co.id/2010/04/ayat-ayat-al-quran-tentang-produksi.html
[2] Tafsir Al misbah M. Quraish shihab
[3] Tafsir Al misbah M. Quraish shihab
[4] Tafsir Al misbah M. Quraish shihab
[5] http://refkyfielnanda.blogspot.co.id/2015/01/studi-hadits-tentang-produksi_19.html
[6] Ilfi Nur Diana, Hadis-Hadis Ekonomi, (Malang: UIN Malang Press, 2008), hal. 38.
[7] http://refkyfielnanda.blogspot.co.id/2015/01/studi-hadits-tentang-produksi_19.html
[8] Ibnu Khaldun, Muqaddimah, (Kairo: al-Maktabah,1930), hal. 35.
[9] http://refkyfielnanda.blogspot.co.id/2015/01/studi-hadits-tentang-produksi_19.html
 

No comments:

Post a Comment